Terbang yang sesungguhnya bukanlah menatap dari balik jendela pesawat. Melainkan berlari sepenuh hati di tepi tebing menghadap angin Samudra Hindia, sampai tanah perlahan menghilang, dan tubuhmu ditopang dengan lembut namun pasti oleh suatu kekuatan. Angin pun berbentuk—ia menjelma sayap di belakangmu, membawamu meluncur ke biru tak bertepi. Di bawah kaki terbentang tebing laut hijau zamrud Uluwatu dan garis ombak putih halus, di telinga hanya bisik angin yang tersisa. Anda telah melepaskan diri dari garis cakrawala, menjadi burung yang mengawasi Pulau Dewata dari atas. Makna paralayang bukanlah pada tiba, melainkan pada kebebasan murni yang tergantung antara langit dan bumi ini.

